Just another WordPress.com weblog

Author Archive

Update Symantec

Tips:

  • Selalu update program antivirus (virus definition dan engine) agar terhindar dari virus-virus baru. Jika memungkinkan update setiap minggu atau paling tidak setiap bulan. Silakan klik link ini: Pembaruan
  • Banyak virus yang ikonnya mirip file biasa (misalnya mirip Microsoft Word atau JPG), padahal file tersebut adalah virus dan memiliki ekstensi EXE (executable). Untuk menghindari hal seperti ini, buka Windows Explorer, Tool -> Folder Option -> View. Cek pada pilihan Show Hidden Files and Folder, uncheck pada pilihan Hide Extension for Known Type Fil.es, uncheck pada pilihan Hide Protected Operating System Files.
  • Berhati-hati membuka file EXE atau COM dari Internet atau komputer lain. Selalu scan file yang diperoleh dari luar komputer, apalagi hasil download dari Internet.
  • Diawali dengan cara penularan virus lewat media USBDISK / flashdisk. Sebenarnya sangat simple, ketika flashdisk dicolokkan ke dalam port USB virus yang sedang berjalan tinggal mengkopi dirinya sendiri ke dalam flashdisk, dan tidak lupa pula dengan membuat file “autorun.inf” yang letak filenya kasat mata sehingga tidak dapat dilihat. Nah… file inilah yang akan diedit agar virusnya tidak dapat menjalankan dirinya di komputer kita.
  • Arti istilah Virus Komputer dianggap berkaitan erat dengan pengertian berikut. Adalah program buatan manusia yang dapat memperlambat kinerja sistem, merugikan atau bahkan merusak sistem. Program ini mempunyai kemampuan untuk mengembang atau menyebar yang telah diatur di dalam program tersebut.



Edukasi Puasa

Puasa yang diwajibkan oleh Allah pada bulan Ramadhan, bila dilakukan sesuai dengan syariat-Nya, akan melahirkan pribadi yang unggul dalam berbagai segi. Contohnya, Nabi Muhammad SAW. Keunggulan itu merupakan unsur terpenting dari tujuan puasa: takwa.

Karena itu, menarik ketika kita hubungkan pernyataan di atas dengan pangkal firman Allah, ” Dan, berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya,” (QS Albaqarah/2: 184). Pertanyaannya, bagaimana caranya mengukur tingkat keunggulan diri kita sendiri? Jawabannya ialah kita seharusnya sudah berpuasa seperti caranya Nabi Muhammad SAW. Jika belum, marilah kita mulai mengkritik puasa yang baru saja kita laksanakan sebagai alat pembelajaran, mengaca diri, mengevaluasi kinerja, dan merancang agenda untuk kehidupan mendatang atas dasar iman-takwa kepada-Nya.

Melalui ritual puasa selama bulan suci Ramadhan, seseorang dapat mewujudkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang amat berbeda keluhurannya dengan yang tidak berpuasa. Ketika seseorang telah sampai pada tahap itu, yang bersangkutan telah mampu mengapreasiasi puasanya.

Mari, kita ungkapkan detail nilai-nilai edukasi puasa yang berbasis ajaran Islam yang selanjutnya dijadikan panduan hidup dan akan berimplikasi besar terhadap perbaikan moral pribadi, bangsa, serta kelangsungan hidup dan kehidupan manusia.

Pertama, nilai pemeliharaan jiwa tauhid yang ada di dalam diri setiap orang. Puasa Ramadhan diawali dengan mengajar mereka yang percaya kepada Allah. Melalui ibadah puasa pada bulan Ramadhan, Allah melakukan penyadaran total kepada setiap hamba-Nya. Dalam salah satu ayat Alquran, kita telah diberi tahu bahwa dalam diri kalian, ada unsur fitrah yang perlu kalian sadari bahwa diri kalian diciptakan oleh Allah, berada dalam genggaman kekuasaan Allah, dan pada saatnya akan kembali kepada-Nya.

Kedua, nilai histori puasa. Puasa yang diwajibkan Allah SWT kepada rasul-Nya, Muhammad SAW, adalah perbuatan ritual yang telah berlangsung dan memiliki sejarah tersendiri sepanjang kehidupan umat manusia di planet bumi ini. Meskipun kitab Alquran bukan buku sejarah, Alquran membicarakan masalah sejarah kehidupan umat manusia, termasuk dalam hubungannya dengan puasa. Sejarah berfungsi untuk dijadikan sebagai unsur ibrah atau pembelajaran yang amat berharga bagi setiap orang, baik sebagai individu maupun sosial, yang akan hidup kemudian terhadap apa dan bagaimana sukses serta mulianya seseorang atau rusak dan luluh lantaknya suatu bangsa dalam kehidupan masa silam.

Ketiga, nilai ketakwaan kepada Allah. Takwa adalah tujuan utama puasa. Takwa harus menjadi pakaian kita dalam menjalani kehidupan duniawi. Pakaian yang dimaksud bukanlah jenis-jenis pakaian takwa yang dirancang oleh para desainer yang memproduk bentuk baju yang tak berkerah atau sejenisnya. Rupanya, Allah bermaksud menjadikan takwa sebagai tujuan akhir berpuasa. Sebab, takwa itulah yang diharapkan menjadi bekal untuk melaksanakan ibadah haji. Dengan demikian, kita dapat mengartikan bahwa puasa wajib Ramadhan merupakan upaya Allah mendidik hamba-Nya untuk memasuki fase kehidupan yang tidak bergantung kepada materi, melainkan kepada-Nya semata.

Keempat, nilai imsak yang berarti suatu fase bagi seseorang yang mau berpuasa dan mulai menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Imsak berarti starting point bagi seseorang yang akan berpuasa pada keesokan harinya, mulai terbit fajar dari ufuk timur hingga terbenamnya matahari di ufuk barat.

Kelima, niat ihtisaban. Dasar puasa Ramadhan yang paling populer adalah sabda dari Nabi Muhammad SAW. Barang siapa berpuasa serta dipenuhi keimanan dan introspeksi diri, maka diampuni segala dosa yang telah lalu.” (HR Bukhari Muslim). Ihtisaban sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan introspeksi diri. Namun, lebih tepat bila diterjemahkan melakukan koreksi diri atau self-examination.

Keenam, nilai keilmuan. Berdasarkan informasi Alquran dan keyakinan umat Islam bahwa mula diturunkannya wahyu sekaligus menandai kerasulan Muhammad SAW terjadi pada bulan Ramadhan. Lima ayat yang sekarang termaktub dalam kitab suci Alquran pada awal surah Al-Alaq memerintahkan Muhammad untuk membaca. Allah Yang Mahatahu menyadarkan Muhammad dan seluruh umat manusia bahwa membaca adalah kunci utama setiap orang untuk memasuki wilayah ilmu pengetahuan, peradaban tinggi.

Ketujuh, nilai qiyam al-layl. Setiap malam Ramadhan, umat Islam disunahkan beramai-ramai mendatangi tempat ibadah untuk melaksanakan kebiasaan Muhamad SAW, yaitu qiyam al-layl atau yang lebih populer dengan shalat tarawih. Tarawih merupakan media syiar agama Allah.

Setiap orang Islam bergegas untuk mendatangi tempat ibadah (masjid, mushala, surau, atau langgar) dengan pakaian yang bagus, rapi, kemudian saling menyapa satu sama lain, dan salaman penuh dengan senyum rasa hormat antarsesama Muslim. Ramadhan mendatangkan kenikmatan dan kenangan tersendiri.

Karena itulah, tidak mengherankan bila setiap orang Islam selalu rindu untuk bersua kembali dengan Ramadhan mubarak. Apalagi, mereka yang berkesempatan melaksanakan ibadah umrah ke Tanah Suci dalam bulan yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan Allah SWT.

Sungguh luar biasa, menakjubkan, dan istimewanya bulan Ramadhan karena memang diistimewakan oleh Allah SWT. Pantas kiranya bila suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan hal-hal berikut. Pertama, seandainya umat manusia tahu dan rasakan apa saja keistimewaan Ramadhan, mereka akan memohon kepada Allah agar seluruh bulan menjadi Ramadhan. Kedua, aku selalu sedih bila Ramadhan meninggalkanku. Karena itulah, aku selalu memohon kepada Allah kiranya diberi umur panjang untuk bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan. Ketiga, aku amat bergembira bila bertemu kembali dengan Ramadhan. Bila Ramadhan meninggalkan kita, aku amat sedih.

Menyinergikan ritual puasa Ramadhan yang sarat nilai-nilai edukasi ke dalam profesi kita masing-masing merupakan agenda utama kita untuk membuktikan bahwa kaum Muslim Indonesia adalah pelopor khayra ummatyang rahmatan li al-`alamin. Jika itu terbukti, dipastikan bahwa puasa wajib Ramadhan tahun ini berhasil meningkatkan derajat ketakwaan kita dan menjadi sumbangan riil umat kepada bangsa dan negara tercinta, Indonesia. (Prof Dr H Abd Majid MA)

(http://koran.republika.co.id/koran/0/117580/Edukasi_Puasa)


Melestarikan Iktikaf

Salah satu amalan yang menjadi tradisi dan kekhasan Ramadhan adalah iktikaf. Yaitu, berdiam diri di masjid dalam waktu tertentu untuk mencari ridha Allah. “… Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, iktikaf, rukuk, dan sujud.” (QS Albaqarah [2]: 125, 187).

Pada bulan Ramadhan, iktikaf sangat dianjurkan. Di dalam sebuah hadis dinyatakan, “Rasulullah SAW selalu beriktikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan hingga beliau dipanggil oleh Allah. Setelah beliau wafat, istri-istri beliau meneruskan kebiasaan iktikaf ini.” (HR Bukhari Muslim).

Mengapa 10 akhir Ramadhan? Karena diyakini oleh kebanyakan umat Islam bahwa pada malam-malam tersebut ada Lailatul Qadar. Kadar ibadah yang dilakukan pada saat itu bernilai lebih baik dari seribu bulan.

Amalan yang biasa tampak dari orang-orang yang iktikaf adalah membaca dan menadaburi Alquran, berzikir, memperbanyak shalat sunah, membaca buku-buku keagamaan, mengikuti pengajian, mendengarkan tausiyah, dan lain sebagainya. Iktikaf menjadi program unggulan sejumlah masjid, termasuk di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Iktikaf dapat dilaksanakan kapan saja, baik selama bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Saat yang terbaik adalah 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Jumhur ulama sepakat, iktikaf hukumnya sunah, kecuali iktikaf nazar.

Mazhab Hanafi membaginya kepada yang wajib, yakni iktikaf nazar–sunnah mu’akkadah pada 10 hari terakhir Ramadhan dan sunnah mustahab pada waktu selain 10 hari terakhir Ramadhan.

Ulama dari Mazhab Syafi’i mensyaratkan iktikaf harus tinggal dalam waktu tertentu yang lamanya sama dengan waktu tuma’ninah (berhenti sebentar) dalam rukuk atau sujud. Adapun menurut ulama Mazhab Hambali, iktikaf sekurang-kurangnya berlangsung selama satu jam.

Iktikaf dimaksudkan untuk menyucikan roh dan mengembalikannya kepada fitrah iman (Al-A’raf [7]: 172) dan fitrah Islam (Ar-Rum [30]: 30) dengan berupaya mematikan kecenderungan fujur (kefasikan) dan menghidupkan kecenderungan takwa (Asy-Syams [91]: 7-8). Membebaskan diri sementara dari kesibukan dunia agar terbebas dari penyakit al wahn, yakni hubbu al-dunia wa qarahiyah al-maut (cinta kepada dunia dan takut akan kematian).

Di antara hikmah lainnya adalah kita akan mudah mengusir nafsu dari dalam diri melalui upaya taqarrub (mendekatkan) kepada Allah SWT serta memperkaya diri dengan ibadah-ibadah yang disunahkan. Senantiasa merasa belum cukup dengan yang diharamkan, lalu menjauhi yang dimakruhkan.

Menurut Ibnu Atho’illah as-Sakandary, yang terbaik bagi kita untuk selamat dari kejaran setan dan para anteknya adalah berlari dan berlindung di rumah Allah. Niscaya rumah Allah akan sangat kuat dan kokoh. Pada akhirnya, kita akan selalu terjaga dari perbuatan dosa dan maksiat. Karena dalam melestarikan iktikaf, ruang hati selalu tertambat dengan rumah Allah. Wallahu a’lam. (Ustaz Muhammad Arifin Ilham)

(http://koran.republika.co.id/koran/0/117550/Melestarikan_Iktikaf)


Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!