Just another WordPress.com weblog

Agama

Edukasi Puasa

Puasa yang diwajibkan oleh Allah pada bulan Ramadhan, bila dilakukan sesuai dengan syariat-Nya, akan melahirkan pribadi yang unggul dalam berbagai segi. Contohnya, Nabi Muhammad SAW. Keunggulan itu merupakan unsur terpenting dari tujuan puasa: takwa.

Karena itu, menarik ketika kita hubungkan pernyataan di atas dengan pangkal firman Allah, ” Dan, berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya,” (QS Albaqarah/2: 184). Pertanyaannya, bagaimana caranya mengukur tingkat keunggulan diri kita sendiri? Jawabannya ialah kita seharusnya sudah berpuasa seperti caranya Nabi Muhammad SAW. Jika belum, marilah kita mulai mengkritik puasa yang baru saja kita laksanakan sebagai alat pembelajaran, mengaca diri, mengevaluasi kinerja, dan merancang agenda untuk kehidupan mendatang atas dasar iman-takwa kepada-Nya.

Melalui ritual puasa selama bulan suci Ramadhan, seseorang dapat mewujudkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang amat berbeda keluhurannya dengan yang tidak berpuasa. Ketika seseorang telah sampai pada tahap itu, yang bersangkutan telah mampu mengapreasiasi puasanya.

Mari, kita ungkapkan detail nilai-nilai edukasi puasa yang berbasis ajaran Islam yang selanjutnya dijadikan panduan hidup dan akan berimplikasi besar terhadap perbaikan moral pribadi, bangsa, serta kelangsungan hidup dan kehidupan manusia.

Pertama, nilai pemeliharaan jiwa tauhid yang ada di dalam diri setiap orang. Puasa Ramadhan diawali dengan mengajar mereka yang percaya kepada Allah. Melalui ibadah puasa pada bulan Ramadhan, Allah melakukan penyadaran total kepada setiap hamba-Nya. Dalam salah satu ayat Alquran, kita telah diberi tahu bahwa dalam diri kalian, ada unsur fitrah yang perlu kalian sadari bahwa diri kalian diciptakan oleh Allah, berada dalam genggaman kekuasaan Allah, dan pada saatnya akan kembali kepada-Nya.

Kedua, nilai histori puasa. Puasa yang diwajibkan Allah SWT kepada rasul-Nya, Muhammad SAW, adalah perbuatan ritual yang telah berlangsung dan memiliki sejarah tersendiri sepanjang kehidupan umat manusia di planet bumi ini. Meskipun kitab Alquran bukan buku sejarah, Alquran membicarakan masalah sejarah kehidupan umat manusia, termasuk dalam hubungannya dengan puasa. Sejarah berfungsi untuk dijadikan sebagai unsur ibrah atau pembelajaran yang amat berharga bagi setiap orang, baik sebagai individu maupun sosial, yang akan hidup kemudian terhadap apa dan bagaimana sukses serta mulianya seseorang atau rusak dan luluh lantaknya suatu bangsa dalam kehidupan masa silam.

Ketiga, nilai ketakwaan kepada Allah. Takwa adalah tujuan utama puasa. Takwa harus menjadi pakaian kita dalam menjalani kehidupan duniawi. Pakaian yang dimaksud bukanlah jenis-jenis pakaian takwa yang dirancang oleh para desainer yang memproduk bentuk baju yang tak berkerah atau sejenisnya. Rupanya, Allah bermaksud menjadikan takwa sebagai tujuan akhir berpuasa. Sebab, takwa itulah yang diharapkan menjadi bekal untuk melaksanakan ibadah haji. Dengan demikian, kita dapat mengartikan bahwa puasa wajib Ramadhan merupakan upaya Allah mendidik hamba-Nya untuk memasuki fase kehidupan yang tidak bergantung kepada materi, melainkan kepada-Nya semata.

Keempat, nilai imsak yang berarti suatu fase bagi seseorang yang mau berpuasa dan mulai menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Imsak berarti starting point bagi seseorang yang akan berpuasa pada keesokan harinya, mulai terbit fajar dari ufuk timur hingga terbenamnya matahari di ufuk barat.

Kelima, niat ihtisaban. Dasar puasa Ramadhan yang paling populer adalah sabda dari Nabi Muhammad SAW. Barang siapa berpuasa serta dipenuhi keimanan dan introspeksi diri, maka diampuni segala dosa yang telah lalu.” (HR Bukhari Muslim). Ihtisaban sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan introspeksi diri. Namun, lebih tepat bila diterjemahkan melakukan koreksi diri atau self-examination.

Keenam, nilai keilmuan. Berdasarkan informasi Alquran dan keyakinan umat Islam bahwa mula diturunkannya wahyu sekaligus menandai kerasulan Muhammad SAW terjadi pada bulan Ramadhan. Lima ayat yang sekarang termaktub dalam kitab suci Alquran pada awal surah Al-Alaq memerintahkan Muhammad untuk membaca. Allah Yang Mahatahu menyadarkan Muhammad dan seluruh umat manusia bahwa membaca adalah kunci utama setiap orang untuk memasuki wilayah ilmu pengetahuan, peradaban tinggi.

Ketujuh, nilai qiyam al-layl. Setiap malam Ramadhan, umat Islam disunahkan beramai-ramai mendatangi tempat ibadah untuk melaksanakan kebiasaan Muhamad SAW, yaitu qiyam al-layl atau yang lebih populer dengan shalat tarawih. Tarawih merupakan media syiar agama Allah.

Setiap orang Islam bergegas untuk mendatangi tempat ibadah (masjid, mushala, surau, atau langgar) dengan pakaian yang bagus, rapi, kemudian saling menyapa satu sama lain, dan salaman penuh dengan senyum rasa hormat antarsesama Muslim. Ramadhan mendatangkan kenikmatan dan kenangan tersendiri.

Karena itulah, tidak mengherankan bila setiap orang Islam selalu rindu untuk bersua kembali dengan Ramadhan mubarak. Apalagi, mereka yang berkesempatan melaksanakan ibadah umrah ke Tanah Suci dalam bulan yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan Allah SWT.

Sungguh luar biasa, menakjubkan, dan istimewanya bulan Ramadhan karena memang diistimewakan oleh Allah SWT. Pantas kiranya bila suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan hal-hal berikut. Pertama, seandainya umat manusia tahu dan rasakan apa saja keistimewaan Ramadhan, mereka akan memohon kepada Allah agar seluruh bulan menjadi Ramadhan. Kedua, aku selalu sedih bila Ramadhan meninggalkanku. Karena itulah, aku selalu memohon kepada Allah kiranya diberi umur panjang untuk bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan. Ketiga, aku amat bergembira bila bertemu kembali dengan Ramadhan. Bila Ramadhan meninggalkan kita, aku amat sedih.

Menyinergikan ritual puasa Ramadhan yang sarat nilai-nilai edukasi ke dalam profesi kita masing-masing merupakan agenda utama kita untuk membuktikan bahwa kaum Muslim Indonesia adalah pelopor khayra ummatyang rahmatan li al-`alamin. Jika itu terbukti, dipastikan bahwa puasa wajib Ramadhan tahun ini berhasil meningkatkan derajat ketakwaan kita dan menjadi sumbangan riil umat kepada bangsa dan negara tercinta, Indonesia. (Prof Dr H Abd Majid MA)

(http://koran.republika.co.id/koran/0/117580/Edukasi_Puasa)